//]]>

Kenapa Harus Merelakan dan Melepaskan?

Relakanlah, ikhlaskanlah. Via crafthubs.com.

Dalam kehidupan, banyak hal yang terjadi. Terkadang, hal yang tidak kita duga-duga. Kehilangan pekerjaan, misalnya. Pada suatu ketika, bos bilang, "kamu tidak usah masuk lagi besok". Alasannya pun beragam, karena tidak becus kerja, omset menurun, perlu pembaruan karyawan, bahkan mungkin tanpa alasan. Ada sesuatu disitu, ketidakrelaan. Dengan kata lain, kecewa.

Begitu pula dengan patah hati. Bisa dengan berbagai sebab. Tidak mesti dalam hubungan percintaan, patah hati bisa juga bersebab kurang harmonisnya hubungan antara harap dengan realita. Harapan yang tidak kesampaian. Akhirnya, kecewa (lagi).
Lantas? Apa yang mesti kita lakukan?

Merelakan
Relakanlah! Jawaban simpel sebenarnya. Mungkin Anda akan merasa klise dengan alasan "relakanlah". Wajar, tidak mudah merelakan. Walaupun banyak orang menyarankan demikian. 

Merelakan itu seperti bernapas. Kita akan tetap bisa menghirup udara kehidupan kalau kita bisa melepaskan udara (CO2). Bukan tidak perlu, tapi keadaannya memang sudah harus dilepaskan. Ada keseimbangan disini. Melepaskan untuk kehidupan.

Kalau CO2 tidak kita lepaskan, maka oksigen (O2) tidak bisa masuk. Anda tahu sendiri kan konsekuensi selanjutnya?. Ya, menyesakkan dada, sesak napas, dan akhirnya kita harus berada di alam lain. Anda paham kan maksud saya?

Begini. CO2 (karbondioksida) mengandung racun berbahaya bagi manusia apabila kita hirup. Sebaliknya, O2 (oksigen) sangat bermanfaat bagi kita, manusia. Mungkin Anda masih ingat ketika masa sekolah dulu, guru bilang, "Jangan duduk di bawah pohon ketika malam. Karena ia mengirup oksigen dan melepaskan karbondioksida. Karbondioksida berbahaya bagi manusia." Contoh lain, asap kendaraan bermotor, pabrik, mobil dan asap sejenis, semuanya yang berbahaya bagi kesehatan kita. Mengandung karbondioksida. Dapat menyebabkan kematian.

Keep breathing!
Makanya, sering kita dengar "teruslah bernapas". Hal ini berlaku terhadap apa pun. Misalnya, ketika panik, biasanya napas akan tersengal-sengal. Kita akan diinstruksikan untuk menarik napas dalam-dalam, lalu melepaskannya. Perlakuan ini akan terus diulang sampai kita bisa merasa normal kembali. Nah, pertanyaannya bagaimana kita bisa menarik napas kalau kita tidak melepaskannya terlebih dahulu.

Normal, kok. Ketika kita berada dalam lingkaran keseimbangan, kehidupan akan baik-baik saja. Bahkan, lebih baik. Artinya, kita berpikir apa yang sanggup kita pikirkan. Selebihnya serahkan pada yang Maha Kuasa, Allah SWT. Ikhlaskanlah.

Sama seperti dalam terapi hipertensi (tekanan darah tinggi), hal yang plaing simpel yang dapat kita lakukan adalah mengontrol apa yang dapat kita kontrol dan lepaskan apa yang tidak dapat kita kontrol. Disini, yang dapat kita kontrol terdapat dalam pikiran kita. Misalnya saja terjadi musibah, hal itu tidak dapat kita kontrol. Sudah ada yang atur. Lalu, apa yang dapat kita kontrol? Pikiran. Salah satu penyebab paling umum dalam hipertensi adalah "kepikiran". Kalau pikiran tidak tenang, apa saja yang kita lakukan akan tidak menyenangkan.

Berprasangka baiklah dan jangan pikirkan apa yang tidak sanggup kita pikir dan kontrol.  Tak perlu pikiran kenapa begini? Kenapa begitu? Seandainya saja. Yang ada, akan semakin menyakitkan. Bukankah kehidupan begitu? Ada hal-hal yang diluar Kendali kita. Hal yang tak bisa dikendalikan sama sekali.

Oleh sebab itu, ikhlas itu indah. Lebih daripada sekadar kata merelakan. Untuk kehidupan yang lebih baik, kita perlu merelakan. Mungkin disitu letaknya keindahan dalam kehidupan ini. Ada hal-hal yang mesti menjadi misteri agar kita bisa berprasangka baik dan terus berbuat baik.

So, let it go! Relakanlah! Demi sesuatu yang lebih baik (lagi). Ketika sesuatu itu pergi, yakinlah bahwa sesuatu yang lebih baik akan menghampiri. Bersiaplah, relakan yang harus dilepaskan dan terimalah yang akan datang menghampiri. Wallahu a'lam bisshawab. Semoga bermanfaat.
Share on Google Plus

About Lintasanpenaku

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment