//]]>

Apa Pendapat dan Impianmu Tentang Pendidikan Indonesia?

APA PENDAPAT DAN IMPIANMU TENTANG PENDIDIKAN INDONESIA?
Ilustrasi anak sekolah di daerah terpencil menuju sekolah, via solopos.com

Pertanyaan tersebut saya dapatkan dalam esai singkat untuk pendaftaran “Menyapa Indonesia” tempo hari. Walau pun saya belum berkesempatan untuk ikut serta, akan tetapi kali ini saya ingin menyampaikan sedikit pendapat saya mengenai pendidikan di Indonesia. Ada tiga pertanyaan yang mesti dijawab.

1. Bagaimana pendapat dan impianmu tentang pendidikan Indonesia?

Pendidikan Indonesia masih belum merata. Artinya, masih terdapat perbedaan yang sangat signifikan antara pendidikan di kota dengan di desa. Begitu pula halnya dengan kota besar dan daerah pinggiran. Belum semua anak Indonesia memperoleh akses yang sama terhadap pendidikan. Belum lagi dengan keterbatasan sarana dan prasarana di pedesaan, semakin menambah kesenjangan pendidikan anak-anak Indonesia.

Impian saya sebenarnya simpel saja. Yaitu semua anak memperoleh hak pendidikan atau akses terhadap pendidikan yang sama. Walau pun sangat susah diwujudkan, mengingat negara ini adalah negara kepulauan, tapi setidaknya jangan terlalu jauh perbedaannya. Kalau pun di pedesaan, ada alternatif lain yang membuat anak itu bisa memperoleh pendidikan yang sama dengan mereka yang berada di perkotaan dan menjawab permasalahan mereka sendiri.

Ini tidak berbicara tentang teknis, tapi aksesnya. Kalau pun tidak persis sama, ya minimal mereka memiliki sumber untuk mereka akses dan pelajari. Sehingga pendidikan di Indonesia akan semakin baik karena anak-anaknya berpendidikan. Butuh waktu lama memang, namun hasilnya akan kita nikmati puluhan tahun yang akan datang. Bukan besok atau dalam waktu dekat, butuh kesabaran dan proses.


2. Jika kamu terpilih, inspirasi apa yang akan kamu bagikan?

Ya. Setiap orang perlu inspirasi, tak terkecuali bagi mereka di daerah yang serba terbatas aksesnya. Sebagai seorang blogger, saya ingin menginspirasi mereka tentang “membaca”. Membaca bukan dalam artian sempit. Bisa dilakukan dimana saja, kapan saja dan (si)apa pun bisa menjadi sumbernya. Setelah itu ya berbagi dengan teman-temannya yang belum tahu. Temannya yang lain juga akan melakukan hal yang sama, berbagi sesuatu yang baru. Sehingga setiap orang adalah guru, setiap tempat adalah sekolah dan setiap informasi adalah ilmu pengetahuan. 

Dengan demikian, ilmu pengetahuan dapat diakses dengan mudah dan setiap orang punya daya nalar (critical thinking) tersendiri untuk menyelesaikan “masalah” di lingkungan sekitar mereka. Begitu pula dengan semangat untuk meraih sesuatu. Bahwa apa pun bisa kerja capai asal ada kemauan, kerja keras dan doa. Banyak contoh orang sukses yang dengan segala keterbatasan mereka bisa mencapai apa yang mereka cita-citakan.


3. Ceritakan singkat tentang pengalaman Anda mengunjungi berbagai daerah di Indonesia

Travelling merupakan hobi saya sejak lama. Akan tetapi, jalan-jalan yang penuh dengan pengalaman edukasi saya dapatkan ketika saya berkesempatan mengunjungi daerah Aceh, tepatnya ke kabupaten kutacane dan Blangkejeren, ketika saya menjadi salah satu enumerator penelitian tentang pendidikan di sana. 

Walaupun saya lahir dan besar di Aceh, ternyata di daerah nun jauh di sana, pendidikannya jauh berbeda dengan  dimana saya sekolah dulu. Ini masih dalam satu provinsi. Belum lagi bila dibandingkan dengan pendidikan mereka yang di kota besar dan ibukota. Jauh sekali perbedaannya. Di sinilah terjadi gap atau kesenjangan.

Saya mendapati bahwa pendidikan kita masih “tidak baik-baik” saja. Dimana banyak hal yang berkaitan dengannya dan saling mempengaruhi. Misalnya, tentang akses guru, buku bacaan, dan prasarana pendukung lainnya. Belum lagi di daerah terpencil yang anak-anaknya tugasnya tidak saja belajar, mereka juga harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Begitu pula dengan guru yang harus memikirkan nasibnya sendiri karena terbatasnya gaji yang diterima untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Dan tantangan lain yang mesti dikaji dan diselesaikan bersama-sama dengan segenap pihak yang terkait, secara holistik dan berkesinambungan.

Untuk itu, mari sejenak kita melirik pendidikan di daerah yang sangat potensial untuk dikembangkan. Mereka bukannya tidak mampu, tapi kurangnya kesempatan yang diberikan untuk berkembang dan bertumbuh menjadi manusia merdeka.

Semoga bermanfaat!

Share on Google Plus

About Lintasanpenaku

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment