//]]>

Menghargai Sebuah Pertemuan

Pertemuan dan perpisahan via madina.or.id

Suka atau tidak, sebuah pertemuan dan perpisahan adalah dua momen yang akan kita lewati. Setiap pertemuan tentu ada perpisahan.

Takut akan perpisahan, lantas kita menghindari sebuah pertemuan? Tidaklah bijak jika kita bertindak demikian. Toh, pada akhirnya kita juga akan menghadapi sebuah perpisahan yang tidak bisa kita hindari, kematian. Setiap yang bernyawa pasti akan mati.



Menghargai Setiap momen
Karena kita benci akan perpisahan, terkadang, kita akan menghindari sebuah pertemuan. Takut akan berpisah, lalu kita akan menganggap sebuah pertemuan hanya terjadi secara kebetulan. Bersebab terlalu fokus pada perpisahan --terkadang--kita kurang menghargai sebuah pertemuan.

Kita tak bisa mengulang waktu. Pun tak bisa hidup di masa silam. Kita hanya bisa hidup pada waktu sekarang dan berdoa agar kehidupan yang akan datang menjadi lebih baik.

Mungkin kita pernah berjumpa dengan seseorang di waktu yang tak terduga-duga, di tempat yang tak disangka-sangka. Mungkin juga pertemuan itu hanya sementara, cuma beberapa saat. Namun memberi kesan teramat dalam. Apakah setelah perjumpaan itu kita akan terus bersama dan bisa bertemu saban waktu? Tak ada yang bisa menjamin. Bisa jadi setelah perjumpaan, kita akan langsung berpisah.

Urusan pertemuan dan perpisahan sudah ada yang atur, Allah. Yang terbaik yang bisa kita lakulan adalah menghargai sebuah pertemuan itu. Memberi arti dan membuat sebuah perjumpaan dengan sebaik-baik pertemuan. Selama kita masih hidup, apa salahnya kalau kita hidup yang berarti. Salah satunya ya dengan tak menyia-nyiakan pertemuan tersebut.

Kehilangan
Saya tidak mengatakan bahwa setiap pertemuan itu akan berakhir dengan baik. Tidak juga. Bila kita berjumpa dengan "pencuri" --dan akhirnya-- yang mencuri harta kita, atau mungkin hati, tentu kita akan merasa kehilangan.

Berusaha untuk mencari dan menemukan pencuri itu kembali adalah sebuah keharusan. Namun, stress gara-gara memikirkan kehilangan itu dan menyalahkan terus-menerus diri sendiri juga bukan sebuah jawaban. Yang ada, kita akan kehilangan diri kita sendiri. Berbahaya.



Biarlah ia pergi, hilang tak kembali. Kita telah berusaha mencarinya kembali. Let it go. Ambil hikmahnya. Entah itu agar kita tidak lalai dan lebih menjaganya, ataupun kita pernah melakukan kesalahan.

Suatu ketika teman saya pernah bilang, "ingat! Dunia ini seimbang. Ada baik, ada buruk. Ada siang, ada pula malam. Ketika dunia sudah tidak seimbang, maka akan ada kekuatan yang akan menyeimbangkannya. Sang Pencipta  Maha Tahu. Mungkin itulah cara terbaik agar kita bisa introspeksi dan kembali melanjutkan kehidupan sebagaimana mestinya."

Sebagai penutup, tak ada yang sia-sia di dunia ini. Pun, tak ada yang kebetulan. Semuanya sudah ada yang atur. Pertemuan dan perpisahan juga demikian. Kita diajarkan untuk menghargai sebuah pertemuan, mengambil pelajaran darinya dan terus berusaha menjadi yang terbaik dan melakukan yang terbaik. 

Dengan begitu, tentu kita tak perlu mengatakan," Bukan perpisahan yang kutangisi, tapi pertemuan yang kusesali". Kalau tak ada pertemuan tentu tak ada perpisahan. Mungkin juga, kalau tidak ada perpisahan kita tak akan menghargai arti sebuah pertemuan.
Wallahu a'lam bisshawab.


Pertemuan untuk menyapa hello via musicisart.ws

Share on Google Plus

About Lintasanpenaku

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment