//]]>

Menulis Atau Mati?

Menulis atau mati via www.thenewsargus.com
Menulis memang (bukan) hal yang mudah. Namun apa jadinya bila tidak menulis? Seseorang yang “gila” kata akan terasa “mati” bila tidak menulis. Terlebih, kalau ia sudah menemukan “nikmatnya” menulis. Mengekspresikan diri dan bla bla bla.
Pertanyaan diatas bukan untuk menakuti anda, pembaca. Seolah hanya ada dua pilihan yang tersedia; hidup atau mati. Memang, dalam kehidupan selalu ada pilihan yang akan menuntun kita ke langkah selanjutnya. Pertanyaan tersebut adalah refleksi bagi saya pribadi. Saya hanya ingin memperjelas kepada diri saya sendiri, menulis atau mati (lapuk dimakan waktu)? Kita pernah ada, namun seakan tak pernah ada. Bisa juga dikatakan seperti ada namun tiada.
Baiklah, saya tidak ingin membuat anda kebingungan dengan frasa-frasa diatas. Kalimat yang menjadi judul dalam kolom ini, kiranya, dapat dimaknai dengan dua sisi yang saling terkait. Pertama, dengan menulis anda akan hidup. Kedua, anda akan mati bila tidak menulis.
Banyak orang mengklaim bahwa mereka bisa merasakan hidup kembali atau “hidup selamanya” dengan menulis. Sebut saja seperti bung Pram, penulis “Bumi Manusia”, salah satu karya fenomenalnya yang masih terkenal sampai sekarang. Tokoh yang bernama lengkap Pramoedya Ananta Toer pernah mengingatkan, “orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah (Rumah Kaca, h. 352)”.
Bahkan, Pram juga berujar, “Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” Begitu dahsyatnya menulis.
Anne Frank, dalam sebuah karyanya pernah menulis begini: “Yang paling menyenangkan adalah bahwa aku paling tidak masih bisa menulis apa yang kurasakan dan kupikirkan, kalau tidak, jiwaku pasti akan mati.” Penulis yang lain, semisal Helvi Tiana Rosa, juga punya pandangan tersendiri tentang menulis. Baginya, “Ketika sebuah karya selesai ditulis, maka pengarang tak mati. Ia baru saja memperpanjang umurnya lagi”
Contoh lainnya,  teman saya sesama blogger, Azhar Ilyas, punya tag line blog yang istimewa, yaitu “Menulis membuatku seperti hidup kembali”. Ia seperti sebuah pengakuan bahwa ia seakan sudah mati kalau tidak menulis. Ia rajin sekali mengupdate blognya, sehari bisa beberapa tulisan. Kisahnya pun beragam.
Beberapa penggalan kalimat khas penulis diatas hanyalah secuil umpama yang ternukil dalam kolom ini untuk menguatkan betapa hebatnya menulis. Ada banyak orang yang terkenal dengan tulisannya, meski ia sudah tiada. Kiranya, ini semacam warisan yang akan dibaca turun temurun oleh generasi setelahnya yang tidak hanya dinikmati oleh keturunannya saja, namun juga oleh segenap manusia. Jadi, jangan remehkan sebuah tulisan!
Hidup dengan menulis via www.smashwords.com

Simpel namun tidak sesederhana itu
Sebulan belakangan ini saya tidak menulis apa-apa. Akan tetapi, pikiran saya terus “meramu” tulisan-tulisan di benak saya. Saya tidak bisa diam untuk tidak menulis. Pernah saya coba untuk vakum, namun seakan dunia ini “meaningless” tanpa kata atau sekadar ekspresi. Bisa anda bayangan bagaimana jadinya dunia ini bila tanpa adanya komunikasi, baik kata maupun ekspresi? “Hampa”, anda betul sekali. Ditambah lagi bila tak ada lagi “rasa” yang bisa diungkapkan, meski dalam bahasa non verbal. Sunyi.
Saya menemukan kembali semangat saya yang hilang kala saya menulis, meski di dalam pikiran. Hebatnya, rangkaian kata-kata yang kelihatan tanpa makna, hanya bualan dan tumpahan isi pikiran itu justru berarti ketika menjadi sebuah tulisan. Saya merasa bersyukur dapat menemukan kembali semangat itu, salah satunya, dengan cara menulis.
Menulis tidak dapat dipaksa, namun memaksa diri untuk menulis adalah hal biasa. Menuntaskan sebuah tulisan yang telah ditulis itu luar biasa. Tulisan yang bermanfaat dan menginspirasi justru sebuah kepuasan tanpa anti-klimaks. Semoga bermanfaat!
Share on Google Plus

About Lintasanpenaku

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment