//]]>

Menjadi (Lebih) Dewasa




Dewasa versus tua via fiqhflas.blogspot.com
Don’t grow old—grow up!”, Jangan bertambah tua—tambah dewasalah!. Kata Dorothy Carnegie dalam bukunya “Don’t Grow Old—Grow Up”.

Seiring berjalannya waktu, usia juga ikut larut bersamanya, alias menua. Dari yang dulunya masih imut-imut, sekarang sudah menjadi amit-amit. Dari yang dulunya muka polos, sekarang sudah jerawatan. Dari yang dulunya mulus, sekarang sudah kumisan atau jenggotan. Dulu rambut masih hitam, sekarang sudah ubanan. Saat bilangan umur tidak bisa kita hitung lagi dengan jari tangan dan lusinan kado dan atau ucapan ulang tahun sudah kita terima, seyogianya kita bisa lebih memahami apa yang belum kita pahami ketika masih usia belasan. Ketika usia semakin matang, kata “dewasa” belum menjadi “dewasa” kala ia belum matang seperti matangnya usia. Karena dewasa itu pilihan. Bukanlah warisan.
Menjadi dewasa adalah pilihan via kaskus.co.id
Dewasa itu pilihan
Di kalimat lain, seringkali kita jumpai kata “menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan”. Dunia ini adalah baharu, artinya akan terus berubah-ubah. Akan terus bergerak, dinamis, bukan statis. Nah, sebagai makhluk dinamis sudah sepatutnya kita juga ikut bertumbuh dan berkembang saban waktu dan bertambah dewasa, bukan hanya tua. Setiap hari dalam hidup, kita akan berhadapan dengan pelbagai problema dan dinamika sosial yang semakin kompleks. Kalau cara bersikap dan bertindak kita hari ini masih sama seperti lima atau sepuluh tahun lalu, lantas kapan dewasanya kita?
Begitu pula halnya bila kita hanya melihat satu persoalan dari satu sudut pandang saja. Kita seakan memaksakan kehendak seenak perut kita saja. Bahwa kit apaling benar dan semua orang harus ikut tunduk dan patuh pada apa yang kita bilang. Kita tidak memberikan kesempaatan orang lain untuk menjelaskan, meski sekilas.
Dewasa itu tidak memandang umur. Yang muda pun bisa jadi lebih dewasa dari yang lebih tua. Begitu juga sebaliknya. Orang yang lebih tua terkadang bisa kelihatan seperti anak-anak. Nah, memilih dewasa atau (hanya) tua?

Sekarang, pilihannya ada sama kita. Memilih untuk dewasa atau tua tanpa dewasa.
Share on Google Plus

About Lintasanpenaku

    Blogger Comment
    Facebook Comment

4 comments:

  1. Menjadi tua adalah pasti tapi tumbuh dewasa adalah pilihan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yap, that's right, Nya. :D
      Kalo kita tdk belajar dr skrg, smpe kapan mau nunggu? Toh,umur smakin senja.

      Delete
  2. Apakah tua-tua keladi menunjukkan seorang tua yang dewasa? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. @safariku: kalau itu harus tanya sama daun keladi dlu, mas bro. Haha
      Tua-tua semakin jadi. Makin tua makin ga tau diri.kalau dia udah tua,ga sadar dia ga lagi muda... Ga dewasa juga, hehe

      Delete