//]]>

Efek Branding



Branding menentukan via bengkelstickers.blogspot.co.id
Kalau Anda pergi ke warung untuk membeli sebotol air mineral karena haus, apa kalimat pertama yang Anda lontarkan? Saya dapat menebak bahwa sebagian besar Anda menjawab “Ada Aqua bang/kak/pak?”. Si penjual pun menjawab, “ada”. Dilanjutkan dengan pertanyaan lain, bla...blaa...blaa. kalau sekiranya yang merek “Aqua” tidak ada, ia akan menjawab “ada bang, tapi bukan merek Aqua. Boleh?” begitu yang pernah saya alami.
Namun, kesan yang berbeda akan Anda tangkap kalau saya bertanya, “pak, ada air mineral?”. Si penjual tidak langsung menjawabnya. Ia bertanya kembali. “air mineral itu apa pak?”. Lantas saya menjelaskan, “Aqua bang”. “Ooooh, ada. Kenapa ga bilang dari tadi?” jawabnya cepat.
Dari dua contoh percakapan di atas, terdapat dua interpretasi yang berbeda.
Pertama, Aqua sudah memiliki branding yang kuat di benak masyarakat lantaran, mungkin, keluaran pertama air mineral berkemasan adalah aqua. Pemilik merek dagang Danone tersebut sudah menancapkan kuat-kuat bahwa air minum yang jernih dan bersih adalah aqua. Ketika kita dijejali dengan iklan bahwa air minum murni yang berasal dari pegunungan yang terjaga adalah aqua; melewati generasi ke generasi; dan hidup sehat bersama aqua.
Nah, itulah efek branding, efek merek. Walaupun air di sumur rumah saya di kampong mungkin lebih baik dari aqua, namun orang tetap akan lebih memilih aqua untuk diminum.
Lain lagi halnya jika seseorang sudah terkena efek branding. Semua yang dipakai mestilah yang punya merek. Kalau tidak ada merek, tidak dihirau orang. Akhirnya, lahirlah orang-orang yang memegang merek, bukan kualitas. Yah, walaupun yang bermerek itu sudah ada jaminan kualitasnya, akan tetapi tidaklah menjamin semua akan bagus.
Awas Pemalsuan!
Seiring perkembangan zaman, setiap merek dagang terkenal tentu punya saingan alias barang tidak asli atau palsu. Ada pesaing yang melakukan manipulasi nama, warna atau ejaan. Misalnya saja, Mount Aqua (keluaran pertama Aqua) dan Prada Sari (keluaran pertama Purba sari). Keduanya adalah barang asli, hanya namanya saja sedikit membubuhkan nama “penguasa pasar”. Dan itu tidaklah mengapa. Toh, harganya bisa lebih murah dan anda sudah tahu tentang produk tersebut sebelum membeli. Kalau berbicara kualitas, itu tergantung konsumen. Silahkan saja memilih mana yang paling cocok dengan kebutuhan, kantong atau pun kepuasan.
Lain lagi halnya jika barang tersebut adalah barang palsu dan dijual dengan harga barang asli. Konsumen sudah jelas dirugikan. Kualitasnya tidak terjamin, malah kantong bisa terkuras habis. Anda mesti selektif dalam memilih produk, terlebih yang sudah punya “nama”, alias “branded”, bermerek. Karena tidak semua yang sudah punya nama berkualitas asli. Contoh di atas hanya sebagai tamsil yang mudah kita temukan sehari-hari. Banyak contoh lain yang dapat anda dapatkan di barang yang lain.
Jadi, berhati-hatilah dalam memilih suatu produk yang sudah punya “nama”. Agar kita tidak tertipu. Semoga!
Share on Google Plus

About Lintasanpenaku

    Blogger Comment
    Facebook Comment

2 comments:

  1. "Ngon peu neujak keunoe?"

    "Ek HONDA lah. Panee na laen teuma!"

    hahah

    ReplyDelete