//]]>

Langkah Selanjutnya


“Setelah ini, lalu apa?” tanya saya pada Dani, teman saya. “Saya akan terus melangkah”, begitu jawabnya singkat.
Memang benar, langkah selanjutnya akan terasa berbeda dari yang sudah-sudah. Terlebih, jika kita sudah terlalu lama tidak melangkah, alias diam di suatu tempat. Entah karena kerja, takut terjadi perubahan, takut tidak berhasil, dan perihal lain yang tak cukup tempat untuk diuraikan. Semua itu seperti benang kusut yang sudah bertumpuk-tumpuk dan basah. Terlihat sukar untuk melepaskan diri. Padahal, belum tentu seperti itu.

Kita tidak akan pernah tahu rasanya kalau saja kita tidak pernah melangkah. Apakah pada langkah sebelumnya kita pernah berhasil atau belum, sedikit banyak akan berpengaruh pada pilihan kita untuk melangkah pada langkah selanjutnya. Jangan berhenti melangkah, selama ia harus dan kita masih diberi kesempatan untuk hidup.

Kalau mau menilik ke Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), langkah berarti gerakan kaki (ke depan, ke belakang, ke kiri, ke kanan) waktu berjalan; jarak antara kedua kaki waktu melangkah ke muka (waktu berjalan); sikap; tindak-tanduk; perbuatan; tahap; bagian. Artinya, ada gerakan di sana. Dalam gerakan, ada usaha. Usaha itulah yang membakar kalori menjadi sebuah kekuatan. Usaha itu sendiri akan berhasil kalau ada dorongan (semangat).

First step is difficult
Ada peribahasa yang sudah lumrah kita ketahui, “First step is difficult”, langkah pertama itu sulit. Ya, karena langkah pertama itulah yang paling menentukan. Yang akan membawa kita ke langkah-langkah selanjutnya dan berikutnya. Perlu keberanian yang luar biasa untuk mampu melangkah. Karena melangkah itu juga sebuah pilihan yang menuntun kita kepada kesuksesan dalam hidup.

Sebab itulah kita harus melangkah melewati kesulitan itu sendiri. Segera setelah langkah pertama digerakkan, langkah selanjutnya sudah menanti. Langkah berikutnya diayunkan, langkah selanjutnya sudah menunggu. Begitu seterusnya. Kita mestilah melangkah terus, hingga kita bisa melewati ilalang dan jalan terjal. Melintasi rumah-rumah dan pepohonan. Kita pun bisa berlari dan tujuan yang hendak dicapai akan lebih cepat diraih. Akhirnya, sampai di tujuan. Kalaupun belum berhasil, setidaknya kita sudah berusaha.

Kaki boleh saja dua, namun “bebannya” terkadang melebihi beratnya. Karena kaki-kaki itu tidaklah melangkah sendirian, kehidupan bersamanya. Mungkin, ia membawa tanggungjawab, moral atau bahkan badan yang dulu berbeda dengan yang sekarang. Siapa tahu, sang badan memikul “muatan” yang tidak hanya miliknya. Ada ransel berisi baju-baju, buku-buku kehidupan, perlengkapan di jalanan, hingga topi berbulu dan kacamata hitam. Atau, bahkan, kehidupan orang lain pun ikut bersamanya. Bisa saja, ada senjata yang ikut bersamanya untuk berjaga-jaga selama di jalan.

“Hidup ini keras, kawan”. Kata teman saya. Tak ada yang tahu di jalanan itu seperti apa. Untuk itu, mestilah kita berhati-hati selama di jalan. Orang bahkan ikut berpesan dan mendoakan, “hati-hati di jalan. Semoga selamat sampai di tujuan!”.

Boleh jadi orang pernah melewatinya, namun rasa yang sebenarnya akan terasa betul ketika kaki kita benar-benar melangkah di sana. Peta, alamat dan cerita-cerita yang ditulis atau dituturkan oleh orang-orang adalah benar adanya. Setidaknya, menurut versi mereka. Kisah mereka patut menjadi renungan dan pertimbangan sekaligus panduan (awal) bagi langkah kita ke depan. Selanjutnya, kitalah yang memilih untuk menapaki langkah yang sama dengan mereka, sedikit berbeda atau malah berlawanan. Semuanya diikuti konsekuensi.

Jangan salahkan mereka kalau saja langkahmu kemudian berbeda dengan cerita mereka. Begitu juga dengan hal-hal yang kamu alami. Waktunya berbeda. Tak semua cerita indah itu menyenangkan. Karena keindahan itu sendiri beragam maknanya, menurut pribadi masing-masing. Begitu pula dengan keburukan dan kesedihan, beda kadarnya. Relatif, kata orang. Ada perih yang mengasyikkan, ada indah yang menyakitkan. Tak kan sama alat perasa, setidaknya kadarnya. Kita yang rasa.

Ada kaki yang membawa ke jalan yang lurus, ada juga yang berlawanan. Begitu pun jalannya; ada yang mulus, juga sebaliknya. Untuk melangkah, kita hanya butuh keberanian, untuk melangkah. Namun, sebelum melangkah, ada pikir yang mesti didahului dan rasa yang patut ditimbangi. Buah pikir itu didasari pengalaman serta pembelajaran ; dan rasa itu dimotori oleh hati. Selanjutnya, doa dan ilahi yang ikut mencampuri langkah kaki.

Hidup adalah perjalanan
Setelah semua itu, kita mestilah melangkah (lagi). Karena hidup adalah perjalanan. Dan perjalanan akan dapat ditempuh setelah kita melangkah. Pertanyaannya, beranikah kita melangkah? Melampaui kekhawatiran dan rasa takut itu sendiri?

Sebenarnya, tak ada langkah yang salah. Yang salah adalah kalau kita tak pernah atau tak berani melangkah. Kita tidak akan pernah tahu kita bisa berjalan  atau berjalan di jalan yang benar kalau saja kaki-kaki itu tak pernah diayunkan.

Memang betul, ada langkah yang tak bisa diulang dan ditarik kembali. Untuk itulah kita mesti belajar bagaimana melangkah dengan baik dan benar dengan penuh kecermatan dan perhitungan, tanpa melangkahi hukum ilahi. Agar kita benar-benar tahu jalan mana yang mesti kita tapaki dan kita dahului di atas jalan lainnya.

Nah, karena hidup adalah perjalanan, maka melangkahlah. Kehidupan akan berarti kalau kita bisa memberi arti pada kehidupan itu sendiri. Dan ia bermula dari langkah selanjutnya. Selamat melangkah, semoga sampai di tujuan!



Share on Google Plus

About Lintasanpenaku

    Blogger Comment
    Facebook Comment

4 comments:

  1. Super sekali Mas Bro. Langkahmu lebar sekali ya.. Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Trima kasih, Makmur. Smoga langkah selanjutnya lebih mantap (lagi lebar). Hehe :D

      Delete
  2. "Sebenarnya, tak ada langkah yang salah. Yang salah adalah kalau kita tak pernah atau tak berani melangkah. Kita tidak akan pernah tahu kita bisa berjalan atau berjalan di jalan yang benar kalau saja kaki-kaki itu tak pernah diayunkan."

    mantappp, bang!

    ReplyDelete