//]]>

Lupa; Anugerah atau Musibah?





Lupa; anugerah atau justru musibah? Via shutterstock.com

Dalam sebuah pertemuan, seorang kawan mengatakan bahwa ia lupa tema pertemuan kali ini. Lantas ia bertanya pada saya. Saya pun memberitahunya dengan sebenar. Ia menambahi, lupanya ini sudah tingkat parah. Ia sangat malu ketika ditanya sama atasannya, apakah tugas yang baru saja diminta sudah selesai atau belum. Padahal, sang atasan sudah sejak 3 jam yang lalu memberitahunya. Tugasnya tidaklah sulit, cuma mengecek apakah bak air sudah penuh atau belum. Lantas ia bertanya kembali kepada sang atasan, "Ibu menyuruh saya apa ya tadi?"

Waduh, kacau. Tak karuan sang atasan diam sembari mengernyitkan dahinya. Dengan wajah tak bersalah, teman saya itu bertanya lagi untuk kesekian kalinya. Si bos pun mencak-mencak dan memarahinya sejadi-jadinya. Tak bisa membela diri. Karena urusan itu juga didengar oleh seluruh karyawan yang lain. Ia pun, akhirnya, minta maaf.

Sebaliknya, ia tidak bisa melupakan makian dan serapahan atasannya. Sampai ke detail kalimatnya pun ia masih ingat. Plus intonasi sang atasan ketika marah dan gesturenya. Kalau saya minta dia untuk memperagakannya pasti ia bisa saat ini juga. Bahkan, kadang-kadang ketika ia lagi serius sekali dalam berdebat dengan sejawatnya di warung kopi, saya menyela pembicaraannya. Lem, enak ya kena siraman iman sama si bos. Hehe.

Tanpa diberi aba-aba, dia segera membela diri sambil memeragakan layaknya bos sedang marah. Lengkap dengan sentilan yang dibuatnya sendiri. Kami ketawa terpingkal-pingkal. Tak sanggup menahan. Walaupun ia kesal, tapi bisa menjadi bahan guyonan bagi kami. Hahaha....

Dari kedua pemaparan di atas, ada dua sisi yang dapat kita lihat. Pertama, lupa pada apa yang seharusnya. Kedua, tidak bisa melupakan saat ia dimarahi.

Lantas, untuk persoalan pertama, lupa yang demikian itu hendaklah tidak dibiarkan merajalela. Rugi sendiri nanti. lalu, bagaimana seharusnya dalam menyikapi lupa? Seyogianya, kalau ia memang tipe pelupa, ia menuliskan catatan-catatan penting atau membuat “to-do list”. Agar keseringan lupa dapat ia siasati dengan menambah “ingatan” melalui catatan. Tentu, ini bukanlah jalan satu-satunya untuk mengatasi “lupa”. Dalam sebuah diskusi, karib saya sering mengingatkan agar sering-sering “berzikir” dan menghapal Al-Quran, minimal ayat pendek. Karena dengan menghapal Al-Quran, bukannya memori di otak kita akan semakin berkurang layaknya komputer, melainkan akan semakin bertambah. Itulah hebatnya otak manusia. Juga, di waktu “senja” atau tua, hapalan al-Quran akan menghindarkan kita dari pikun.

Selanjutnya, ingat pada waktu-waktu tertentu. Momen-momen dimarahin, terdampar di suatu pulau, dilabrak orang, kena skors, dan pengalaman pahit lainnya terkadang sangat sukar dilupakan. Begitu pula saat-saat senang. Waktu menang lomba blog, dimuat tulisan di koran, mendapat penghargaan prestise, atau mungkin dapat berfoto dengan pesohor di Indonesia atau di muka bumi ini, mungkin, akan mendapat tempat tersendiri di dalam ingatan kita. Sudah lumrah, begitu kata orang.

Dalam pada itu, mengingat-ingat terus kesalahan dan kejelekan orang lain adalah perihal yang patut dihindari. Karena, hanya mengingat kejelekan dan kesalahan orang lain tanpa melihat kebaikannya adalah tindakan yang tidak adil. Hal itu juga akan mengurangi memoir indah yang patut dikenang oleh otak kita. Dengan mengingat yang positif, kita akan semakin menjadi pribadi yang positif. Semoga!

Anugerah dan musibah
Memberi sedekah atau membantu orang lain adalah perihal yang sangat mulia. Tidak patut diingat-ingat. Karena keseringan mengingat, apalagi sampai mengungkit, sungguh tidak enak didengar oleh yang menerima bantuan. Kalau alasannya untuk menginspirasi orang lain, ya tidak masalah. Dan untuk alasan yang diluar dari itu, lupa di sini adalah anugerah.
Sebaliknya, yang diberi pertolongan sudah sangat patut untuk tidak melupakan kebaikan orang lain. Karena dengan demikian, kata syukur akan semakin lekat dalam ingat dan, tentunya, orang yang membantu akan senang.

Dan, Anda tahu, lupa yang sangat parah adalah lupa daratan. Itu musibah namanya. Karena, walau bagaimanapun, kita tidak selamanya di langit atau di awing-awang. Masih ada bumi tempat kita jatuh atau berpijak suatu ketika. Sekadar catatan, kita butuh tanah (daratan) untuk “beristirahat panjang”.
Share on Google Plus

About Lintasanpenaku

    Blogger Comment
    Facebook Comment

8 comments:

  1. Biar tidak banyak lupa, jangan banyak liat aurat yang bkn hak kita. Kata kawan. hahaha
    nice post bang :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha.... "Jangan banyak", dikit boleh yaaa?
      Peace... Btul tu karl. :D

      Thanks,karl! ::D

      Delete
  2. Replies
    1. Hehe... :D
      Smoga lbih banyak anugerahnya yaaa....

      Delete
  3. Saya hampir "lupa" berkomentar. Bereh Mas Bro, memang droneuh motivator. Haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha....
      Smoga "lupa" membawa berkah...

      :D thanks, Mas Bro. Smoga menjadi kenyataan dan doa droeuenh maqbul. آمــــــــــــــــــين يا رب العالمين :D

      Delete
  4. Replies
    1. Makasih Isni :D
      Smoga ke depan smakin bagus yaaa :D

      Thanks for visiting ;)

      Delete