//]]>

Tertawalah Sebelum Tertawa itu Dilarang!



Tertawalah dengan bahagia, Roy Suryo aja ketawanya ngakak begitu. Via kaskus.co.id
Bagi Anda penggemar sinema Warkop DKI --Dono, Kasino, Indro-- tentu sudah hafal betul dengan slogan yang satu itu. Kalimat yang dimunculkan di awal tayang sebelum masuk ke dalam cerita. Sebuah slogan untuk mereka yang selama ini stress karena berbagai persoalan hidup yang rumit, jarang tertawa karena berada di lingkungan angker alias seram, atau bahkan, boleh jadi, takut tertawa karena saraf tawanya sudah "dikebiri". Saat-saat itulah penonton diajak untuk tertawa bersama. Berbarengan dengan tingkah-polah yang mengundang gelak-tawa.

Tertawa, pada dasarnya adalah hak dan milik setiap orang. Hak Asasi Manusia (HAM) istilah kerennya. Tertawa juga bisa berefek samping bahagia. Walaupun bahagia tidak dapat diidentikkan dengan tertawa. Namun ketika seseorang tertawa, kemungkinan besar ia sedang merasa senang, kalau memang belum mencapai tingkat bahagia. Bahagia sesaat, boleh dibilang begitu.

Ketika Anda melihat sesuatu yang di luar kebiasaan atau mendengar hal-hal yang sedikit “melenceng” dari sifat kebanyakan, kalau Anda tidak berduka karenanya atau bingung mau sedih lalu menangis, ya tentu tertawa. Sungguh sifat alami manusia, manusiawi kata teman saya.

Dalam pada itu, kalau saja ada di antara kita yang tidak bisa sedikit saja meluangkan waktunya bagi saraf tertawa untuk menyalurkan bakatnya, tentu hal ini dapat dipertanyakan akan “kejantanan” urat saraf tawanya. Apakah standar lucu yang berlaku bagi kebanyakan orang juga berlaku pada dirinya atau perlu tegangan tingkat tinggi agar urat saraf tawanya ikut terangsang dan memberi efek kejut pada mulutnya untuk terbahak, minimal senyum. Haha....

Bisa saja orang tersebut tengah mengalami traumatic syndrome stadium empat. Entah karena sebab apa, perihal yang tak dapat dijelaskan, sehingga senyum pun bukan lagi miliknya. Sudah “diperkosa”, kata mereka yang nakal. Oya, harap Anda ingat baik-baik, saya tidak sedang mengomelin Anda ya.... tamsil di atas untuk orang lain, bukan Anda. Serius....... :-D. Kalau tidak buat apa Anda baca tulisan yang menjelek-jelekkan Anda. Atau, jangan-jangan Anda senang diomelin dan dijelek-jelekin (lagi)?....hehe... (ups,.... bercanda).

Bila menengok ke Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “tawa” berarti ungkapan rasa gembira, senang, geli, dan sebagainya dengan mengeluarkan suara (pelan, sedang, keras) melalui alat ucap. Sehingga, dengan pemahaman yang sederhana, tawa itu mengandung rahmat, karena melahirkan rasa gembira dan kesenangan. Bukan bahan ejekan atau tertawaan yang menyinggung perasaan orang lain.

Ketawa ngakak tanpa merasa bersalah, sampe ngocok perut, via clipartbest.com

Saya kira, Anda pun sependapat dengan saya bahwa menjadi tertawaan itu tidak enak. Apalagi jika itu merupakan sisi kelemahan kita. Terlebih jika tempat dan waktunya tidak tepat. Bisa-bisa terjadi adu mulut hingga adu jotos. Pertengkaran hebat tak bisa dielakkan.

Hanya gegara lidah yang kurang lihai dalam bersilat. Sehingga dapat menyayat hati dan perasaan orang yang menjadi bahan guyonan. Di sinilah tukang lawak --atau mereka yang ingin melawak-- perlu belajar banyak untuk tetap berada dalam koridor “menertawakan tapi tetap mengasyikkan”. Tak ada unsur diskriminatif, apalagi sampai membunuh karakter sasaran lawak.

Tentu tak lucu jika tawa itu dipaksakan. Sejatinya, ia lahir dari kesadaran penuh bahwa hal tersebut memang lucu adanya dan dapat mengguncang saraf tawa Anda. Kendati demikian, humor (lucu) pun beragam. Bisa dengan pelawaknya ikut tertawa, tertawa seperlunya atau tidak sama sekali.

Bisa juga, dengan hanya melihat wajah tukang lawak yang nampak “bloon”, kita akan tertawa sendiri. Hal yang berlainan dengan orang yang mencoba melawak yang --malahan-- duluan dia tertawa daripada penonton. “Gak lucu”, tidak alamiah, kata teman saya.

Tukang lawak mencoba menghadirkan sebuah realita hidup dengan kacamata berbeda dan menjungkirbalikkannya versi dia sendiri. Dengan memahami prinsip logika umum, seorang pelawak lalu menghadirkan gambaran kehidupan dengan gaya satire, sehingga hampir semua yang menonton akan ikut tertawa dan merasa terhibur.

Seorang komedian yang “baik” dapat menghipnotis Anda untuk segera melebarkan senyum, lalu gigi Anda akan nampak berjejer --kalau masih punya gigi lengkap tentunya ya, hehe-- yang diikuti dengan desiran halus suara yang keluar dari rongga mulut Anda, lalu perlahan membesar. Pecahlah gelak-tawa Anda. hal tersebut bisa jadi pertanda bahwa mereka telah berhasil mengocok perut Anda dan Anda tidak tersinggung karenanya, walaupun ikut disinggung.

Oleh karenanya, sebagian filsuf bahkan menempatkan para tukang lawak pada posisi yang lebih tinggi dari para pemikir (Bagja Hidayat, tempo.co, 8/3/2014) . Karena ia telah mampu menghadirkan dunia yang berbeda yang tak umum dipahami oleh banyak orang. Dan oleh sebab ia bersedia ditertawakan di saat yang lain justru sangat anti untuk jadi tertawaan. Mungkin, itulah alasan yang dipakai para filsuf.

Nah, bila memang ada hal yang lucu dan patut ditertawakan, ya silahkan saja Anda tertawa. Toh, tertawa juga bagian dari menikmati hidup. Bahkan, ada yang berasumsi bahwa tertawa dapat memperpanjang umur. Alasannya, karena orang yang tertawa itu melewati hari-harinya dengan menikmati hidup dan tidak terlalu ambil pusing dengan persoalan yang sangat-sangat tidak bersahabat. Ada waktu santai sejenak.

Belakangan, juga ada Indonesian Lawak Club di salah satu tv swasta nasional. Sebagai wadah bagi para pelawak untuk menghadirkan tawa ke ruang dengar dan tonton kita, di tengah carut-marut negara kita yang kian tak "seksi" lagi. Lantas, masih juga nahan tawa? Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang!.

Terima kasih sudah berkunjung!
Share on Google Plus

About Lintasanpenaku

    Blogger Comment
    Facebook Comment

8 comments:

  1. Ada sebuah artikel bahasa Inggris yang saya baca di tempat kursus, tertawa tanpa alasan, 10 menit saja, sudah bisa menggerakkan syaraf-syaraf kita sehingga jadinya lebih sehat... :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya perlu dicoba nih. Agar urat saraf tawa saya semakin terlatih.haha
      Btw, boleh mnta dibagi artikelnya?
      Thanks for sharing :)

      Delete
  2. Anda mulai banyak tertawa ya selama ini? Hebat! Haha. Oh ya, belakangan, postingan Mas Bro makin menarik saja. Dan seperti mengandung "daya pikat alam bawah sadar". Lanjutkan! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha..... Betul sekali. Saya tengah menikmati hidup.
      Hidup adalah duka atau tawa,tergantg dr sudut mana kita melihatnya. Ya ga?
      Mas broe ingin gabung dengan saya? Mari kita tertawakan dunia!....hehe
      Hidup udah susah, buat apa dibuat lebih susah? Itu aja kok repot, haha....
      Hm, yaya...terimakasih atas apresiasinya, semoga di alam sadar pun Anda juga ikut senang. Hohoho.....
      Thanks!

      Delete
  3. Setuju... Tertawa itu menyenangkan asal pada hal dan kondisi yang tepat... Berada di dekat orang yang humoris tentu lebih menyenangkan dibanding di dekat galauer yg terus mengeluhkan hidup ya... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yap, bener sekali itu. Berkawan dgn org galau akan menggalaukan hidup Anda.hehe
      Inilah saatnya buat kita menikmati hidup, jgn mendramatisir yg ga perlu.tertawalah!
      Saya senang melihat Anda tertawa (lho...) Artinya Anda bahagia.hehe
      Thanks udh berkunjung :)

      Delete
  4. hahahaha!
    yg penting ketawa. biar gak stress!
    nice post, bang!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha.... That's right. Hadapi dengan senyuman kal...
      Thanks... :)

      Delete