//]]>

Sunyi


Kali ini aku duduk sendiri di sini. Di ruangan empat kali empat. Ruangannya panas minta ampun. Maklum, tak ada jendela, apalagi AC, Air Conditioner. Hanya lubang kecil yang berjumlah tiga saja bertengger di sana. Satu sisi dindingnya bersebelahan dengan rumah sebelah, tetanggaku.

Di ruangan yang disesaki buku-buku yang berserakan. Di temani oleh segelas sanger, aku menuliskan kata per kata hingga membentuk beberapa kalimat di laptopku. Tiada sesuara di sini. Hanya kipas tua yang berputar dengan gaduhnya tanpa terpengaruh oleh sunyinya malam ini.

Suara kipas angin itu berdesis-desis seperti suara gergaji yang dikikir oleh kakek tempo hari. Desisnya memelan seiring usia yang ditempuh sang kakek. Tutupnya pun sudah tidak ada lagi, entah kemana perginya. Selingkuh dengan lelaki lain mungkin. “Yang penting dingin” begitu kataku singkat begitu teman-teman bertanya seenaknya sambil tersenyum yang dibuat-buat.

Untuk menghempaskan kesunyian itu, aku putarkan lagu yang tertera di playlist laptopku. Entah apapun itu, asal enak didengar akan kudengar. Aih, kesunyian terkadang menyeramkan juga, setidaknya kali ini. Mungkin lain kali aku akan merindukan kesunyian itu, tepatnya ketenangan.

Beberapa saat kemudian, mataku tertuju pada serakan buku yang tersusun itu. Di antara serakan itu, kulihat ada sebuah kotak yang belum terbuka. Lalu tanganku meraih kotak itu dan membukanya. Buku-buku kuliahku, juga bacaan umum lainnya yang dulu pernah kucampakkan dalam kardus, mulai kubongkar. Banyak sekali buku yang tidak tersusun rapi, asal muat saja.

Itu kulakukan setahun yang lalu ketika aku buru-buru pindah dari tempat kostku yang lama. Ketika itu aku seperti dikejar-kejar oleh pemilik kost. Bukan salah dia memang. Sudah lewat sebulan aku tinggal di sana melebihi batas ketentuan yang telah kami sepakati. Hampir tiap dua hari sekali dia menanyaiku apakah aku masih mau tinggal di sini atau tidak. Karena calon penyewa baru sudah bertanya perihal rumah sewa tersebut.

Akhirnya, setelah bertanya sana-sini aku dapati rumah yang dicari. Yah, setidaknya lepas dari kejaran pemilik kost yang lama. Hehe... Uang muka telah kuserahkan untuk memantapkan hati pemilik rumah, bahwa aku bersungguh-sungguh ingin menempati rumahnya. Walaupun tidak banyak, namun setelah meyakinkannya segera setelah aku dapati uang akan kukasih sisanya, ia pun nurut. Semua barangku telah kumasukkan ke rumah kostku yang baru. Tinggal merapikannya saja ke dalam wadah yang cocok.

Setelah beberapa lama mencungkil kotak, ada sebuah buku yang menarik hati untuk segera kubaca. Buku itu telah lusuh. Kumuh dan dimakan rayap dipinggirnya. Seperti ayam yang mengorek-ngorek rejeki, aku bersihkan buku itu. Setelah beberapa waktu, kudapati buku itu bersih. Namun rupanya seperti roti gosong yang dipatuk ayam dipinggirnya. Berlubang.

Di sana bertuliskan sebuah judul yang sangat kukenal. Sunyi Tak Berarti Sunyi. Aku sendiri yang menuliskannya tempo hari, ketika moodku masih terbilang sangat bagus untuk menulis. Meskipun bukan dalam bentuk buku yang sesungguhnya, tepatnya mirip tindihan koran lusuh yang diikat. Akan tetapi, kubuat seperti buku yang berisikan kumpulan cerpen dan sajak tentang kesunyian.

Di sana kutambahkan kalimat-kalimatku sendiri di pinggir halamannya. Walaupun kurang ngerti apa yang kutuliskan, masih belum cukup umur mungkin, hehe.... tetap saja kutulis. Perlahan namun pasti, kucoba renungi setiap sisi kalimat itu dengan jawaban dari perjalanan yang sedang kutempuh di kehidupan sekarang ini. Meski jawaban pasti belum kudapati.

Dan, sepotong sunyi kemarin sore masih tersisa di malam ini.

Ulee kareng, Banda Aceh, 2011


Sunyi sepi sendiri via duniaislampost.blogspot.co.id
Share on Google Plus

About Lintasanpenaku

    Blogger Comment
    Facebook Comment

2 comments:

  1. Waaah, Bang Bro sudah punya naskah buku? Kenapa tak dibukukan? Huhu. Jangan buat ia tambah sunyi, segera ramaikan namamu di toko2 buku. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe... Mudah2an suatu hari nanti bisa dbukukan...
      Harus isi materinya dlu, :D
      Doanyaaa....

      Delete