//]]>

Mungkin

Mungkinkah semua ini akan terjadi? Via blog.umy.ac.id



Saat ini, Anda sedang membaca sebuah kemungkinan. Mungkin iya, mungkin juga tidak. Kadangkala, kemungkinan itu menyakitkan. Sebagian orang bahkan mengingatkan, “yang pasti-pasti aja lah!”. Namun sebaliknya, kemungkinan itu pun dapat dikatakan menyenangkan. Karena sebagian yang lain, mungkin, begitu sabar menunggu untuk sebuah kemungkinan.

Mungkin Anda bingung, kenapa saya seringkali menyebutkan kata “mungkin” di sini. Sudah tujuh kali perulangan kata “mungkin”. Dapat Anda hitung sendiri kalau tidak percaya. Atau, tak usah Anda gubrislah masalah itu. Biar saya saja yang menghitungnya sendiri. Toh, ke depan, akan banyak kemungkinan yang bakal muncul. Teruslah membaca. Mungkin dengan membaca sampai tuntas, mungkin, Anda akan menemukan jawabannya. Karena, mungkin, apa yang Anda cari selama ini adalah sebuah kemungkinan. Tidak pasti.

Bila Anda sedang menunggu, kemungkinan yang Anda tunggu akan tiba atau malah sebaliknya. Ketibaan seseorang yang ditunggu-tunggu akan sangat membahagiakan. Girang bercampur senang, mungkin itu yang Anda rasakan.

Ketika sebuah pesawat komersil milik maskapai penerbangan Malaysia Airlines Flight MH370 baru-baru ini hilang di atas Laut Cina Selatan. Kemungkinan besar Anda akan bertanya, “kenapa bisa hilang?”. Apakah pesawatnya tidak layak terbang? Apakah prosedur penerbangan sudah dilalui dengan benar oleh maskapai tersebut? Kan, jam terbang pilotnya sudah tinggi, kok bisa sih? Mungkinkah ada penumpang yang selamat? Mungkinkah pesawat tersebut masih utuh? Dan masih banyak pertanyaan lain muncul. 

Silahkan Anda ikuti terus perkembangan beritanya, kalau Anda ingin tahu jawabannya. Sebagai informasi, dari laman Wikipedia.org (2014), Laut Cina Selatan ialah laut tepi, bagian dari Samudra Pasifik, mencakup daerah dari Singapura ke Selat Taiwan sekitar 3.500.000 km². Merupakan badan laut terbesar setelah kelima samudera. Kepulauan Laut Cina Selatan membentuk sebuah kepulauan yang berjumlah ratusan. Laut ini biasa disebut sebagai Laut Selatan saja di daratan Cina.

Berita hilangnya pesawat tersebut kembali mengingatkan kita akan peristiwa hilangnya pesawat komersil Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak beberapa waktu lalu. Beberapa kalangan berpendapat bahwa Gunung Salak itu angker. Orang lain ikut ngomel dengan mengatakan bahwa pilotnya kurang berpengalaman menerbangkan pesawat di daerah Indonesia. Jam terbangnya belum tinggi di udara Indonesia.

Singkatnya, akhirnya badan pesawat itu ditemukan. Setelah tim SAR, relawan, beserta TNI dan warga setempat sama-sama mencarinya. Dengan ditemukannya bangkai peswat tersebut, terjawablah sudah, dimana sebenarnya pesawat itu berada dan apa penyebabnya. Kemungkinan-kemungkinan yang dilontarkan oleh beberapa orang ada yang terjawab dengan pasti, namun ada juga yang tidak benar sama sekali.

Kembali ke Malaysian Airways. Lalu, pertanyaan lain lagi mungkin bermunculan. Apakah Laut Cina Selatan itu seangker Segitiga Bermuda? Atau para penghuni segitiga bermuda itu telah berpindah tempat ke Laut Cina Selatan? Mungkinkah para alien itu telah membuat pangkalan baru di kawasan Asia? Mungkinkah itu semua sabotase dari sebuah rekayasa luar biasa dari “orang-orang jahat” untuk menjatuhkan maskapai tersebut?

Sekadar tahu, Segitiga Bermuda (bahasa Inggris: Bermuda Triangle), kadang-kadang disebut juga Segitiga Setan adalah sebuah wilayah lautan di Samudra Atlantik seluas 1,5 juta mil2 atau 4 juta km2 yang membentuk garis segitiga antara Bermuda, wilayah teritorial Britania Raya sebagai titik di sebelah utara, Puerto Riko, teritorial Amerika Serikat sebagai titik di sebelah selatan dan Miami, negara bagian Florida, Amerika Serikat sebagai titik di sebelah barat (Wikipedia.org, 2014).

Mungkinkah pemerintah Malaysia, Cina dan negara-negara tetangga di kawasan ASEAN, atau mungkin seluruh negara ASIA saling membahu menemukan jawabannya? Atau, mungkinkah AS turun tangan di daerah kekuasaan Cina-- karena namanya Laut Cina Selatan, hehe—untuk membantu menemukan pesawat yang hilang itu?

Semua pertanyaan tersebut di atas, mungkin, akan memiliki jawaban suatu saat nanti. Mungkin jawabannya akan menjawab kegelisahan para kerabat, sanak saudara korban hilangnya pesawat nahas tersebut atau mungkin tidak menjawab sama sekali. Kita tunggu saja.

Selanjutnya, bagi Anda yang justru harap-harap cemas menunggu sebuah jawaban --apa saja-- yang pasti dari sebuah penantian, kemungkinan jawabannya akan bahagia atau menyakitkan atau bahkan samar-samar, bercampur. Kita tidak dapat memprediksikan dengan jelas. Berdoa sajalah. (serius....Hehe..).

Paling tidak, untuk sebuah penantian dari kemungkinan itu akan lebih bernilai kalau saja Anda yakin bahwa yang Anda tunggu itu pantas untuk Anda nantikan. Masalah pasti atau tidak, biarlah sang waktu yang menentukan. Yang jelas, itu mungkin.
Share on Google Plus

About Lintasanpenaku

    Blogger Comment
    Facebook Comment

4 comments:

  1. Mungkin bila nanti... Kau akan kembali lagi... Katakan... (aleh pue hom, haha). Nice post, Bro.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan mungkin bila nanti, kita kan bertemu lagi....Satu pintaku... (Haha, katakan saja...)
      Tq bro....hehe

      Delete
  2. "Paling tidak, sebuah penantian akan lebih bernilai kalau Anda yakin bahwa yang Anda tunggu itu pantas untuk Anda nantikan."

    mantapp closing-nya!
    :D

    nice post, bang :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha... Kalau memang pantas, why not?
      Thanks karl!
      Perjelas terus...hehe

      Delete