//]]>

Apa ya? Bingung!

Barangkali, judul tulisan ini sering menjadi pertanyaan kita dalam sehari-hari. Bahkan, ada pula yang menambahkan kata "emmm....." sebelum kata "apa ya?". Hal ini menandakan bahwa kita sedang dalam keadaan berpikir dan bisa jadi malah berkonsentrasi mencari akar permasalahan hingga ke solusinya. Mungkin juga, ketika kita kehilangan ide-ide dalam suatu kondisi. Dan apa yang saya tuliskan sekarang ini juga merupakan sebuah pertanyaan yang saya utarakan pada diri saya, "apa yang ingin saya tulis ya?". Sebuah "kebingungan" melanda.

Keadaan ini bukanlah sesuatu yang dramatis untuk lalu saya ceritakan di sini, yang sebenarnya merupakan sebuah konsepsi dari "terlalu banyak pikir" tanpa fokus. Sehingga melahirkan "kebingungan" untuk memilih dan memrioritaskan mana yang paling penting dan harus dikerjakan segera. Lalu, tanpa berpikir terlalu lama, saya mencoba mengutarakannya dalam tulisan ini. 

Bila pun anda merasakan hal yang sama ketika membaca tulisan ini, adalah hal yang wajar, Humanbeings. Jadi, tetaplah di halaman ini. Duduk manis seraya membaca terus, walau di kemudian anda belum menemukan hal yang anda inginkan. Namun, setidaknya anda telah mencoba beralih dari keadaan yang tidak anda inginkan (saya juga). Itulah proses dari berpikir kritis mengubah stagnansi menjadi diri anda sendiri dengan segala konsekuensinya.


Pada keadaan normal, manusia tidak akan selamanya berada pada suatu keadaan. Keadaan dimana ia selalu bersemangat, bersedih, menangis, tertawa, berbicara, mendengar, dan lain sebagainya. Kerap kali, seseorang akan merasa jenuh dengan keadaan yang begitu begitu saja. Ia akan mencari 'keadaan alternatif" untuk mencapai ketenangan hidup. Bahkan untuk seorang kaya raya sekalipun, pada suatu ketika ia akan berhasrat untuk menikmati hidup yang serba biasa. Jauh dari kemewahan, serba ada dan tersedia, serta dan 'kemubadziran". Tinggal masalah waktu saja.

Saya pernah mendengar cerita itu dari seorang dosen dalam diskusi beberapa waktu lalu. Katanya, di luar sana, semisal US dan Eropa, orang-orang sudah mulai memikirkan hal-hal yang serba bermanfaat dan jauh dari pengrusakan alam, lalu kembali ke alam, istilahnya back to nature. Mereka sebenarnya orang kaya, yang hampir semua keinginannya bisa terpenuhi. 

Namun, nyatanya mereka lebih memilih untuk meleburkan diri ke alam dan ke masyarakat. Mereka menolak segala hal yang merusak lingkungan, baliho besar-besar misalnya. Alasannya itu akan merusak pemandangan alam yang indah. selanjutnya, mereka melakukan 'pemungutan makanan sisa" dari toko makanan di malam hari untuk mendapatkan makan malam. (tobe continued)





*********sumber gambar: http://konsultanseojakarta.com ***********
Share on Google Plus

About Lintasanpenaku

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment